1Malam telah mencapai puncaknya. Bulan bersinar redup di langit, sinarnya tersembunyi di balik awan tipis. Lynx berdiri di tepi bukit kecil, menghadap perkampungan perampok yang dijaga ketat. Di belakangnya, Darek, Rafin, dan beberapa pemuda lainnya menunggu instruksi.

"Semua tawanan itu harus bebas," gumam Lynx. "Tidak peduli apa yang harus aku lakukan."

"Kalian tetap di sini dan awasi setiap gerakan mereka," kata Lynx dengan suara rendah, tapi tegas. "Jika ada tanda-tanda pergerakan besar, beri aku isyarat."

Darek mengangguk, meskipun wajahnya tampak ragu. "Kau yakin akan melakukannya sendiri? Mereka pasti sudah mempersiapkan sesuatu."

"Aku tidak punya pilihan lain," jawab Lynx sambil menyesuaikan pegangan pada parangnya. "Jika aku bisa menangkap pimpinan mereka, aku bisa menukarnya dengan para tahanan."

"Kami akan mengawasi," ujar Rafin. "Tapi hati-hati, Lynx."

Lynx tidak menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan semua inderanya sebelum melangkah turun menuju perkampungan. Tubuhnya seperti burung, bergerak dengan kecepatan dan kelincahan luar biasa di kegelapan malam.

"Darek, apakah Lynx manusia seperti kita?" Tanya salah satu dari mereka.

"Kecepatan dan kelincahan itu, aku belum pernah melihat manusia yang mampu melakukan hal seperti itu, bahkan Monrest yang kuat juga kurasa tidak mampu melakukannya." Kata Rafin sambil memperhatikan gerakan Lynx yang samar-samar terlihat dibawah sinar bulan.

"Siapapun dia, kita hanya bisa mengandalkan dirinya saat ini. Hanya dia yang mampu bertarung dengan orang sebanyak itu dan tetap selamat." Jawab Darek.

Mereka kembali memperhatikan Lynx dan perkampungan. Di bawah cahaya bulan, gerakan Lynx yang terlalu cepat terlihat seperti bayangan.

Darek melihat Lynx dalam sekejap mata sudah berada di dekat perkampungan lalu tiba-tiba menghilang. "Kemana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanyanya dengan kebingungan.

"Aku juga tidak melihatnya. Tadi dia sudah dekat pagar, sekarang tidak terlihat lagi sosoknya." Jawab salah satu dari mereka sambil menunjukkan ekspresi keheranan.

Mereka berusaha mencari jejak Lynx, namun tidak terlihat.

"Lihat itu dia," Kata Darek sambil menunjuk ke sebuah bangunan. "Ternyata dia berhasil masuk."

Mereka kembali memantau pergerakan yang terjadi di kampung tersebut sambil berharap Lynx berhasil dengan rencananya.

Ketika Lynx mendekati bangunan besar di tengah kamp, tempat ia menduga pemimpin perampok tinggal, Lynx merasa ada sesuatu yang tidak beres. Suasana terasa terlalu sunyi. Berbeda dengan penjagaan yang ketat di luar perkampungan. Tidak ada tawa kasar atau suara mabuk-mabukan yang biasa terdengar di malam sebelumnya.

Lynx menghentikan langkahnya sejenak, menajamkan pendengarannya. Dengan kemampuan alaminya, ia bisa menangkap suara napas, detak langkah kecil, dan gesekan senjata di kejauhan. Tapi kali ini, suara-suara itu terasa berlapis, seolah berasal dari berbagai arah. Dia juga merasakan napas seperti orang yang kesakitan berada diantara mereka.

"Ini jebakan, tapi tahanan ada bersama mereka. Aku harus menangkap pimpinan mereka segera." pikir Lynx. Namun, ia tetap melangkah maju. Jika ia mundur sekarang, ia tidak akan mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan para tawanan.

Dengan hati-hati, Lynx menyelinap masuk ke dalam bangunan besar itu. Di dalamnya, suasana tetap sunyi. Beberapa obor menyala di dinding, memberikan penerangan redup.

Namun, seketika itu juga, Lynx mendengar derak kecil di langit-langit.

"Serang!"

Dalam hitungan detik, lusinan panah meluncur dari segala arah, menembus udara menuju Lynx.

Lynx bergerak dengan kecepatan luar biasa, parangnya berkilat-kilat di udara, menangkis semua anak panah yang mendekatinya. Beberapa panah memantul ke dinding, sementara yang lain terjatuh ke lantai.

"Tangkap dia!" teriak seorang pria dari sudut ruangan.

Dari balik bayangan, sekelompok pria bersenjata keluar dengan senjata mereka terangkat. Tombak dan kapak batu mengarah ke Lynx.

Lynx menggeram pelan, mengangkat parangnya. "Kalian pikir ini cukup untuk menghentikanku?"

Ia melompat ke depan, menyerang dengan cepat dan efisien. Dalam sekejap, tiga pria terjatuh dengan senjata mereka terpental.

Melihat anak buahnya dengan mudah terjatuh, pria itu yakin tidak akan mudah menangkapnya. "Serang dia. Tangkap hidup atau mati!"

Sepuluh pria kembali maju menusukkan tombak bersama-sama ke arah Lynx dari berbagai penjuru. Namun Lynx dengan kelincahannya, menghindar dengan melakukan lompatan ke atas.

"Panah!" Teriak pimpinan perampok kepada anak buahnya yang sudah bersiaga dengan posisi panah mengarah ke Lynx.

Puluhan mata anak panah terbang menuju Lynx yang sedang melompat ke atas. Karena berada didalam bangunan, dia tidak dapat melompat dengan tinggi. Melihat bahaya di depan mata, Lynx tidak punya pilihan lain selain memutarkan tubuhnya seperti gangsing dan menggunakan parang untuk menangkis serangan yang datang.

Dalam kondisi bahaya, alam bawah sadarnya tanpa disadari mengerahkan energi pelindung yang memancarkan cahaya kasat mata, melindungi tubuhnya dari serangan puluhan panah yang datang menyerang.

Puluhan anak panah terjatuh dan terpental ke segala penjuru. Seluruh orang yang ada di ruangan itu kaget tidak mempercayai penglihatan mereka. Dengan memanfaatkan ujung tombak yang berkumpul di bawahnya, Lynx menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat ke samping.

"Apa yang terjadi?"

"Bagaimana mungkin?'

"Mustahil dia bisa selamat dari serangan seperti itu."

Berbagai suara dari orang-orang terdengar. Tubuh mereka terdiam, pikiran mereka sedang berusaha mencerna apa yang terjadi. Dalam bayangan mereka sebelumnya, pria itu akan terluka dengan puluhan panah tertancap di tubuhnya. Namun kenyataannya berbeda. Pria itu baik-baik saja.

Lynx yang merasa heran karena berhasil selamat, tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Segera dia melompat ke arah pimpinan perampok untuk menangkapnya agar dapat memaksa mereka melepas tawanan.

Namun, ketika Lynx sudah hampir mendekat, pimpinan perampok itu menarik tali yang ada didekatnya. Seorang wanita yang terikat tali pada lehernya langsung tertarik dan kini berada ditangannya. Pimpinan perampok yang wajah penuh luka itu berkata dengan angkuh.

"Berhenti!" teriaknya. "Mundur atau dia mati!" Ancam kepala pimpinan sambil meletakkan pisau kecilnya yang terbuat dari gading hewan di dekat leher wanita itu.

Sebelum Lynx bisa melanjutkan serangannya, ia melihat beberapa pria lainnya juga membawa tahanan keluar dari ruangan lain.

Lynx berhenti di tempatnya, matanya menyipit penuh kewaspadaan.

"Kau pikir kau bisa menyelamatkan mereka?" ejek pria itu. "Kalau kau bergerak, kami akan membunuh setiap tahanan di sini, satu per satu!"

Tahanan lainnya, termasuk anak-anak dan wanita, dipaksa keluar dan dijajarkan di depan para penjaga. Suara tangisan dan isak terdengar memenuhi ruangan.

Lynx menggertakkan giginya. Ia bisa mengalahkan semua penjaga di sini, tapi ia tahu resiko terlalu besar. Jika ia bergerak sembarangan, para tawanan akan kehilangan nyawa mereka.

Pimpinan perampok itu melempar wanita yang ditangannya kesamping dan disambut oleh salah seorang anak buahnya.

Pria besar itu menyeringai, matanya penuh kemenangan. "Kamu salah jika menganggap kami tidak tahu siapa dirimu. Kau adalah Lynx, orang yang membunuh para pimpinan prajurit Monrest. Aku sudah mendengar banyak tentangmu."

"Kalian pengkhianat." jawab Lynx, suaranya rendah tapi tegas. "Kalian menangkap orang-orang dari suku kalian sendiri. Kalian seharusnya bersatu dan bekerjasama menghadapi Monrest. Tapi sebaliknya, kalian hanyalah kelompok pengecut yang menggunakan nyawa orang tak berdosa sebagai senjata."

Pria itu tertawa kasar. "Kau bisa berbicara semaumu, tapi aku yang memegang kendali di sini. Jika kau ingin para tawanan ini tetap hidup, kau harus menyerah."

Lynx terdiam, pikirannya berputar cepat mencari solusi. Namun, pria itu melanjutkan, "Oh, jangan khawatir. Kami tidak akan membunuhmu. Kami akan menyerahkanmu ke Monrest. Mereka ingin kepalamu, Lynx. Dan aku yakin harga kepalamu akan membuat kami mendapat hadiah besar."

Para penjaga tertawa bersama, suasana dipenuhi ejekan dan hinaan.

Namun, Lynx tetap berdiri tegak, matanya tajam memandang pria itu. "Jika kalian berpikir aku akan menyerah begitu saja, kalian salah besar."

Lynx melirik sekeliling, mencari celah untuk bertindak tanpa membahayakan para tawanan. Namun, dengan jumlah musuh yang begitu banyak, ia tahu ini bukan pertarungan yang bisa ia menangkan dengan mudah.

"Hajar dia!" perintah pria itu kepada anak buahnya. "Berikan dia pelajaran karena berani mengganggu kita. Buat dia menyesali kedatangannya malam ini." Katanya dengan tertawa kasar.

